Tampilkan postingan dengan label About Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Marketing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

SISTEM PEMASARAN WARALABA

Salah satu kewajiban yang terapat pada Pasal 8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 Tentang Waralaba adalah melakukan program pemasaran secara terpusat merupakan salah satu kekuatan sistem waralaba. Mengumpulkan pendanaaan dari Penerima Waralaba (franchisee) dalam sebuah sistem dapat menciptakan kekuatan pemasaran yang besar dan kuat. Dana yang dikumpulkan Pemberi Waralaba (franchisor) dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh franchisee sendiri. Sebagai contoh, franchisee Mc Donald di Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beriklan di Piala Dunia 2010. Namun, mereka dapat menikmati iklan yang dilakukan oleh Mc Donald pusat. 
Hal ini membuat franchisee tak perlu khawatir dengan masalah periklanan, karena franchisor yang baik akan membuat materi iklan dengan bantuan pihak pakar iklan profesional yang membuat iklan lebih sempurna dibandingkan jika dibuat oleh franchisee sendiri.
Keuntungan itu tentu membuat anda yang ingin membeli sebuah waralaba tetapi tidak ingin dipusingkan dengan sistem pemasaran yang rumit. Tetapi, Anda tak bisa sembarangan memilih program pemasaran sebuah waralaba. Berikut ini adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan.

 1. Mendatangkan pelanggan
Pertama kali yang harus ditanyakan adalah dana pemasaran akan membawa pelanggan datang ke outlet penjualan produk sehingga membuat usaha sukses. Jika jawabannya ya, maka konflik dapat ditekan sampai ke tingkat minimum. Jika tidak, bakal terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan.

2. Apakah Anda dilibatkan?
Program pemasaran waralaba pada umumnya memberi kesempatan substansial kepada para franchisee menyampaikan opini untuk ditampung. Wewenang keputusan akhir memang normalnya ada pada franchisor. Karena masukan yang paling dekat kepada pelanggan yakni para terwaralaba. Tentu, pendapat Anda harus ditampung.

3. Terdokumentasi dengan baik.
Sistem pemasaran waralaba yang dirumuskan dengan baik dan telah teruji pasti didokumentasikan secara teliti. Meski sebagai franchisee Anda mungkin tak diberikan keseluruhan dokumentasi pemasaran internal, Anda setidaknya mendapatkan daftar isi manual pemasaran. Hal ini akan memberi gambaran mengenai strategi yang akan disampaikan dalam progam pelatihan yang akan diikuti franchisee.

4. Teliti
Cara paling pasti untuk mencari tahu seberapa bagus program pemasaran sebuah perusahaan waralaba adalah dengan langsung. Mereka pasti sangat siap menjawab karena tak banyak hal yang mereka pikirkan kecuali tentang progam pemasaran. (/dari berbagai sumber)
Adanya kewajiban melakukan program pemasaran secara terpusat merupakan salah satu kekuatan sistem waralaba. Dengan mengumpulkan pendanaan dari para terwaralaba (mitra) dalam sebuah sistem, tercipta kekuatan pemasaran yang lebih besar secara kolektif. Dana yang terpusat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan oleh mitra sendirian, semisal melakukan kampanye pemasaran melalui iklan di televisi. Sebagai contoh, mitra Mc Donald di Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beriklan di Piala Dunia 2010. Namun, mereka dapat menikmati iklan yang dilakukan oleh Mc Donald pusat.

Selain itu, mitra tak perlu khawatir dengan masalah periklanan. Sebab, pemilik waralaba yang baik akan menyewa pakar profesional untuk menciptakan materi iklan yang lebih sempurna dibandingkan yang bisa dibuat oleh terwaralaba sendiri.
Keuntungan tersebut tentu akan memudahkan Anda yang ingin berinvestasi namun tidak ingin dipusingkan dengan sistem pemasaran yang rumit. Namun, Anda tak bisa sembarangan memilih program pemasaran sebuah waralaba. Berikut ini adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan.

1. Mendatangkan pelanggan
Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah apakah dana pemasaran dimaksud akan membawa pelanggan datang ke outlet penjualan produk sehingga membuat usaha sukses. Jika jawabannya ya, maka konflik dapat ditekan sampai ke tingkat minimum. Jika tidak, bakal terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan.

2. Apakah Anda dilibatkan?
Program pemasaran waralaba pada umumnya memberi kesempatan substansial kepada para terwaralaba menyampaikan opini untuk ditampung. Wewenang keputusan akhir memang normalnya ada pada pemilik pewaralaba. Karena masukan yang paling dekat kepada pelanggan yakni para terwaralaba. Tentu, pendapat Anda harus ditampung.

3. Terdokumentasi dengan baik
Sistem pemasaran waralaba yang dirumuskan dengan baik dan telah teruji pasti didokumentasikan secara teliti. Meski sebagai terwaralaba Anda mungkin tak diberikan keseluruhan dokumentasi pemasaran internal, Anda setidaknya mendapatkan daftar isi manual pemasarana. Hal ini akan memberi gambaran mengenai strategi yang akan disampaikan dalam progam pelatihan yang akan diikuti terwaralaba.

4. Teliti
Cara paling pasti untuk mencari tahu seberapa bagus program pemasaran sebuah perusahaan waralaba adalah dengan langsung. Mereka pasti sangat siap menjawab karena tak banyak hal yang mereka pikirkan kecuali tentang progam pemasaran.
(Materi waralaba/dari berbagai sumber)
waralaba
pemasaran
sepak terjang dan permasalahan perusahaan kfc
waralaba adalah
pemasaran terpusat
peraturan sosial Mcdonald di indonesia
strategi pemasaran mc donald di indonesia
sistem pemasaran di indonesia
peraturan royalty fee indonesia
peraturan pemerintah tentang marketing
permasalahan FRANCHISE
permasalahan mcd tahun 2007
sepak terjang dan permasalahan perusahaan mcdonald
apa yang dapat ditanyakan dalam materi pemasaran
sistem waralaba pada mcdonalds
strategi pemasaran mcdonald di indonesia
strategi pemasaran mcdonalds indonesia tahun 2007
sumber dana membuat mcd
syarat franchise mcdonald
waralaba dan pemasaran langsung

Rabu, 10 Oktober 2012

Pengertian Marketing Mix

Konsep marketing mix merupakan salah satu konsep dalam pemasaran modern pada saat sekarang ini. Dimana konsep tersebut adalah salah satu kegiatan pemasaran yang sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam mengejar maksimum profit.
Dalam hal ini Swastha (1985 : 94) memberikan pengertian marketing mix adalah empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Selanjutnya Kotler (1985 : 45-48) mengemukakan bahwa marketing mix dapat dibagi menjadi 4 P sebagai berikut :

1 Product (Produk)
2 Price (Harga)
3 Place (distribusi/tempat)
2 Promotion (promosi)
Keempat produk di atas merupakan penentu dalam menganalisa pasar secara keseluruhan, selanjutnya penulis akan menguraikan keempat komponen di atas sebagai berikut :

1 Product (produk)

Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan pada suatu pasar guna mendapatkan perhatian untuk dimiliki, digunakan, dikonsumsi yang dapat memuaskan kebutuhan.
Suatu produk dapat berupa suatu benda, jasa dan keinginan lain-lain untuk melukiskan sesuatu yang dapat memenuhi keinginan. Untuk itu setiap pengusaha harus mengetahui perkembangan kebutuhan konsumen melalui penelitian pasar agar dapat mengetahui dan dapat menyesuaikan diri dalam menciptakan produk.

2 Price (harga)

Harga merupakan alat untuk mengukur nilai suatu barang, harga bagi produsen merupakan penentu bagi permintaan pasar dan mempengaruhi posisi pesaing perusahaan dalam merebut konsumen.
Harga merupakan indicator dari pada barang, dalam menetapkan harga perlu hati-hati dalam memperhatikan potensi pasar. Oleh sebab itu, menentukan harga perlu diperhatikan agar harga yang ditetapkan dapat dijangkau oleh konsumen disamping itu dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan.

3 Plavce (distribusi/tempat)

Produk yang telah dihasilkan oleh suatu perusahaan akan lebih berguna bagi kensumen/pembeli apabila produk tersebut tersedia pada tempat dan saat dimana saja dibutuhkan.
Dalam pencapain tujuan utama dari pemasaran yakni menyalurkan barang-barang atau jasa.Secara efisien dari produsen ke konsumen, maka diperlukan adanya kegiatan penyaluran (distribusi) sebagai mata rantai yang harus dilalui oleh barang-barang dari produsen ke konsumen pada waktu dan jumlah yang tepat.
Barang yang dihasilkan oleh para produsen biasanya tidak secara langsung mereka menjualnya kepada konsumen, tetapi biasanya mereka melalui suatu perantara agar produk yang dihasilkan dapat dengan mudah sampai ke tangan konsumen.
Basu swastha ( 1990: 190) memberikan defenisi tentang saluran distribusi sebagai berikut: Saluran distribusi untuk suatu barang adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ketangan konsumen sebagai pemakai. Saluran distribusi yang digunakan adalah suatu struktur yang menggambarkan alternativ saluran yang dipilih oleh para produsen seperti: pedagang besar, agen, dan pengencer.

Hal ini produsen mempunyai 3 alternatif yaitu:

    a. Distribusi Insentif
Distribusi ini dapat digunakan oleh para produsen yang menjual komponen perusahaan yang berusaha menggunakan penyalur terutama pengecer sebanyak-banyaknya untuk mendekati para konsumen. Usaha ini dimaksudkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan konsumen, semakin cepat para konsumen terpenuhi kebutuhannya maka semakin cepat pula terpenuhi kepuasannya.

   b. Distribusi Selektif
Perusahaan yang menggunakan distribusi ini berusaha memilih sejumlah pedagang besar atau pengecer, agen yang terbatas dalam suatu daerah. Saluran ini biasanya digunakan untuk memasarkan suatu produk baru (barang special) apabila distribusi ini menguntungkan dari distribusi insentif maka jumlah pengecer atau agen yang digunakan akan lebih terbatas.

   c. Distribusi Ekslusif
Saluran ini dilakukan oleh perusahaan dan hanya menggunakan suatu pedagang besar atau pengecer dalam daerah tertentu. Jadi produsen hanya menjual produknya kepada suatu pedangang besar saja dengan mengunakan satu penyelur, maka produsen akan lebih mudah dapat mengadakan pengawasan pada tingkat harga enceran maupun usaha kerja sama dengan penyalur dalam periklanan. Pemilihan saluran distribusi merupakan suatu masalah yang sangat penting sebab keterlambatan barang-barang sampai ketangan kosumen dapat menturangi keuntungan yang diterima oleh perusahaan.

   4 Promotion (promosi)
Promosi adalah suatu usaha perusahaan atau individu memberikan informasi dan mempengaruhi serta menarik konsumen sicara lansung terhadap produk yang dihasilkan.
Promosi adalah cara yang efektif dalam merebut konsumen dipasaran, serta memperkenalkan barang¬¬¬-barang baru yang diproduksi

Who is Marketing’s Customer?



"Marketing needs to view sales as their customer!”  How many times have you heard this one?  It’s a common refrain used by many to drive the thought of marketing-sales alignment in B2B organizations.  To be honest, I’m probably guilty of saying these words myself.  Yet the other day, I heard them spoken by one of my industry colleagues.  When I heard it, my first thought was “That’s simply not true!”

I understand why people think this way.  It’s often the result of marketing submitting to the idea that sales is king.  However, the reality is that the most successful marketing and sales organizations have come to understand that they each have the same customer:  the B2B buyer.
Let me first expose the flaw in thinking that sales is marketing’s customer.  The thought process is that marketing’s job is to deliver high quality leads to sales.  To do so meets sales’ expectations.  In essence, marketing is delivering a product (leads) to a buyer (sales) and meeting their need.  So sales is ultimately their customer.
On the surface, this may seem right.  After all with this sole objective, marketers have a very clear direction, goal and objective.  However, viewing marketing’s role through such a myopic lens severely limits them.  And the role of marketing as the “vendor to sales” does nothing to align sales to marketing.  It only further drives the traditional thought that what sales says goes, and that marketing is there to grant their wishes.
However, if we understand that the customer (defined by Webster’s as one that purchases a commodity or service”) is truly the B2B buyer, then the alignment discussion completely changes.  It puts marketing and sales on equal ground.
According to research conducted by DemandGen Report, 50% of B2B buyers stated they don’t interact with a rep until after they have established a list of preferred vendors.”  This point alone speaks to the need for marketing to do more than just deliver what sales wants.  They must be an active and vital participant in developing engagement with buyers and customers.
If the transformation of marketing and sales as equals (and ultimately, alignment) is  going to happen, then…

1.    Leadership Must Show The Way
Recent research indicates that very few CEO’s, CMO’s, SVP’s or CRO’s view marketing and sales as peers.  There is an array of reasons for this which we will not unpack here.  This needs to change.  An organization’s leadership must enable and equip their marketing and sales teams to transform.  This begins with adjusting compensation, driving collaboration, and managing by example that a culture change is needed to move from “sales only” thinking to “marketing-sales collaborative thought.”

2.    Process Must Be Developed
If you are a frequent reader of this blog, you know that we are believers in the importance of process.  One by-product that comes from developing a Lead Management FrameworkSM is a better definition of the roles marketing and sales need to play, and what each should do to better manage the buying relationship from beginning to end.

3.    Change Management Must Be Implemented
This is a must with any transformation, but can often times be the most challenging.  In order for marketing and sales to move from an antiquated to a modern approach, there must be the willingness to change, a commitment to change, and a plan for change.

4.    Customer Knowledge Must Be Obtained
It’s amazing to me the number of marketing and sales professionals who cannot properly define their customer.  It will be impossible to align around the customer/buyer if it’s not known who they are.  This is beyond segmenting based on vertical.  True customer insight includes assigning characteristics, knowing their challenges, their needs and their approaches to business.  If this is not part of your existing marketing-sales mix, then having both groups develop this together is a good first step toward alignment.

5.    The Right People Must Be In Place
A few years ago I was on a call with a sales manager who said, “I’ve read all about this ‘new B2B buyer’.  Doesn’t matter.  I am going to keep calling them, and we will make them engage with us.”  Make them?!?!  Perhaps he should have been training dogs instead of engaging customers.  Obviously, he did not understand what today’s buyer needs.  Unfortunately, there are those in every organization who just don’t want to understand.  They don’t want to adapt. This may be an indication that it’s time for them to go, and for the right people to be put in the right positions to make the transformation.
We’re in a new phase in the B2B landscape.  At best, the traditional view of marketing is antiquated.  The key to alignment is the customer.  For organizations to be successful they need to stop viewing marketing as a service bureau.  Instead, they need to be viewed as a partner in the process of reaching the buyer.