- Di
saat banyak perusahaan ambruk atau bangkrut pada periode tahun 1997–1998 silam,
Kino Group justru baru mulai membangun fondasi perusahaan. Berbasis produk yang
inovatif, Kino Group berhasil melambungkan merek-merek seperti Permen Kino,
Ovale, Eskulin, Resik V, Master, dan Sleek. Bagaimana Kino menumbuhkan budaya
inovasi di perusahaannya dan bagaimana Harry Sanusi menakhodai Kino Group?
Berikut ini perbincangan Tony Burhanudin, jurnalis Majalah
MARKETING dan Asep Toni K, fotografer Majalah
MARKETING dengan sang CEO.
Perusahaan
yang Anda pimpin sepertinya sangat mengedepankan inovasi sesuai dengan moto
perusahaan, “The Innovator”, apa makna inovasi
bagi perusahaan Anda?
Di
consumer goods berat rasanya untuk memenuhi kebutuhan pasar jika kita
tidak melakukan inovasi. Kalau kita hanya mengikuti konsep me too product,
kita mungkin butuh dana yang sangat besar, yang hanya bisa dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan besar seperti Wings, Unilever, dan sebagainya. Kalau
untuk perusahaan kelas menengah seperti Kino kita perlu banyak berinovasi
supaya lebih gampang masuk ke pasar dan mengambil pasar-pasar yang selalu
tumbuh setiap saat.
Apa
syaratnya sebuah inovasi dapat diwujudkan menjadi sebuah produk?
Dasar
inovasi yang kita pakai, pertama harus memiliki perbedaan yang cukup
signifikan terhadap produk yang sudah eksis. Kedua, inovasi itu harus
bisa diterima oleh target konsumen kita. Jangan asal inovasi dan asal berbeda,
karena belum tentu diterima pasar. Jadi, saling mendukung antara memenuhi
kebutuhan pasar dan inovasi yang kita ciptakan, sehingga konsumen juga akan
lebih mudah untuk memilih kenapa harus menggunakan produk yang baru.
Berarti
Kino Group sangat mendukung budaya inovasi. Bagaimana Anda menumbuhkan budaya
inovasi, tidak mungkin cuma bergantung pada Anda sebagai pucuk pimpinan?
Kami
mendelegasikan kepada karyawan kami, terutama bagian marketing dan R&D (research
and development) semaksimal mungkin. Sebenarnya ide-ide produk baru bisa
datang dari siapa saja, bukan dari karyawan kedua bagian itu saja, karena kami
membuka seluas-luasnya kepada siapa pun. Biasanya tahapannya begini, setelah
ide keluar akan dibahas oleh tim marketing, R&D, dan saya sendiri.
Kemudian, kami coba petakan ide produk tersebut di pasar, kalau memang sudah
ada produk yang eksis, kita lihat lagi apakah ada bentuk inovasinya. Kalau
tidak ada, kami tidak jadi produksi. Kalau memang ada inovasinya, kami pertajam
lagi.
Beberapa
produk Kino Group sukses di pasar, seperti permen lembut rasa kopi. Kira-kira
apa rahasianya selain memang ada muatan inovasi?
Itu
15 tahun yang lalu, memang waktu itu timing-nya tepat. Pada produk
permen, konsumen mudah sekali untuk pindah. Permen itu tidak ada artinya, kalau
konsumen tertarik dia langsung beli. Ini berbeda dengan rokok atau kopi. Kopi
yang iklannya gencar sekalipun, belum tentu orang mencoba. Kalau permen
sederhana saja, kalau tidak enak langsung dibuang. Waktu itu memang pemain soft
candy tidak banyak, sehingga waktu campaign produk itu mudah
diterima masyarakat.
Anda
sebagai entrepreneur punya sense
atau tidak sebuah produk bakal sukses di pasar?
Ada,
mungkin sense ini yang menjadi trigger dari semua proses
inovasi produk. Sense-nya dalam bentuk kita membayangkan, kira-kira
konsumen bakalan mau/tidak dengan konsep produk yang saya tawarkan. Nah,
ini biasanya kami wujudkan lagi/konfirmasi melalui riset, entah melalui riset
yang sederhana seperti FGD (focus group discussion). Dalam FGD ini
biasanya saya langsung yang men-direct, di sini kita bisa tahu
tanggapan dan ekspektasi panelis terhadap konsep produk yang kami tawarkan.
Selain
produk yang sukses, produk Anda juga ada yang gagal, mengapa bisa gagal?
Kami
dulu punya produk yang bisa dikatakan sebagai produk gagal total, yakni Extra
White yang sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Penyebabnya, stabilitas
produknya tidak terpenuhi, karena kita mengejar launching. Hasilnya
malah berantakan. Ada lagi produk gagal karena timing-nya belum tepat,
yakni Absolut (pembersih wanita) yang diluncurkan tahun 1991. Rupanya feminine
hygiene di Indonesia belum banyak yang terlalu mengerti. Enam tahun
kemudian, setelah beberapa brand masuk dan kami re-launching,
ternyata marketnya dapat. Jadi, timing memang turut berpengaruh,
selain konsep dan kualitas.
Di
blog pribadi Anda menulis 3 sampai 5 tahun jika produk tidak mendatangkan
keuntungan dianggap gagal dan harus dihentikan. Itu hitungan best
practice di dunia bisnis atau kalkulasi Anda sendiri?
Sebenarnya
3 sampai 5 tahun itu cuma acuan umum. Terkadang di bawah 3 tahun bisa
kita stop jika memang tidak punya masa depan. Tapi, relatif dalam jangka waktu
3 sampai 5 tahun sudah kelihatan apakah produk tersebut bisa dilanjutkan atau
tidak.
Ada
berapa perusahaan di Kino Group yang Anda pimpin?
Dibanding
dengan grup-grup besar, jumlahnya masih sedikit. Jumlah karyawan kami total ada
7.000. Kami di Indonesia untuk FMCG (fast moving consumer goods) punya
Kinocare dan Kinocentra. Di Filipina punya Kino Consumer Philippines, di
Malaysia ada Kinocare Malaysia, dan di Vietnam ada Kinocare Vietnam, sehingga
total ada 5 yang bergerak di FMCG. Ditambah 1 perusahaan distribusi di
Indonesia, jadi jumlahnya ada 6. Selain itu, kami juga punya restoran Chicken
Story, sehingga jumlah keseluruhan ada 7 perusahaan yang saya kelola.
Bagaimana
Anda mengelola semua perusahaan itu?
Untuk
operasional saya tidak terlibat langsung. Saya lebih fokus ke pengembangan
produk dan strategi marketing, sehingga waktu saya tidak habis di operasional.
Untuk operasional yang kerjanya terukur seperti distribusi, penjualan,
produksi, dan keuangan, saya serahkan kepada para profesional, karena semuanya
bisa diukur. Tapi, yang tidak terukur seperti peluncuran produk baru, membuat
konsep produk, saya terlibat 100%.
Bagaimana
kiprah perusahaan Anda di luar negeri?
Lumayan
eksis. Banyak perusahaan di Indonesia yang hanya jago kandang. Kalau sudah ke
luar negeri tidak bisa berbuat apa-apa. Di Filipina, kami termasuk 5 atau 6
perusahaan Indonesia yang cukup eksis. Perusahaan Indonesia yang lain mungkin hanya
tiga tahun sudah tutup, atau cuma ekspor produk. Kalau kami punya tim sendiri,
dan melakukan aktivitas ATL (above the line) dan BTL (below the
line), jadi kami membangun merek juga di sana.
Apa
yang Anda tanamkan pada karyawan agar perusahaan ini kondusif bagi semua orang?
Karyawan
kerja harus jujur. Jangan kerja asal kerja dan menciptakan iklim kerja yang
tidak kondusif. Sikut-menyikut antarkaryawan untuk mendapatkan posisi yang
lebih baik sangat saya hindari. Kami tanamkan juga karyawan harus berani mengambil
sikap, mengambil keputusan, jangan sampai karyawan menunggu atasannya mengambil
keputusan, ini akan menghambat. Jika keputusan yang diambil salah, kita tidak
akan menyalahkan bila itu terbukti tidak disengaja, sehingga karyawan terpacu
untuk mengambil sikap. Jika salah kita perbaiki bersama-sama. Ketika kita beri
kebebasan ternyata tidak disalahgunakan, justru mereka lebih hati-hati dan
lebih tanggung jawab. Dan ini membuat saya lebih enteng dalam me-manage
perusahaan.
Bagaimana
Anda membagi waktu antara pekerjaan dan urusan pribadi atau keluarga?
Untuk
urusan kerja saya tidak membatasi, di luar jam kantor pun saya masih memikirkan
perusahaan. Banyak orang berpendirian setelah jam kantor selesai, urusan kantor
juga selesai. Malah kadang di hari Sabtu dan Minggu keluar ide-ide konsep
produk baru setelah menonton TV atau saat menemani anak-anak ke supermarket.
Saya kalau ke luar negeri selalu jalan-jalan ke pasar modern dan tradisional,
dan ketika di hotel saya selalu melihat iklan di TV. Kalau iklannya selesai
saya malah pindah channel cari iklan lain, jadi yang saya lakukan
berkebalikan dengan banyak orang ketika menonton TV. Iklan bagi saya adalah
sumber inspirasi yang sangat kaya. Apalagi di luar negeri, mungkin saja produk
tersebut belum ada di Indonesia, mungkin produknya sama, tapi cara
komunikasinya berbeda, ini bisa kita ambil.
(Tony
Burhanudin)
- Di
saat banyak perusahaan ambruk atau bangkrut pada periode tahun 1997–1998 silam,
Kino Group justru baru mulai membangun fondasi perusahaan. Berbasis produk yang
inovatif, Kino Group berhasil melambungkan merek-merek seperti Permen Kino,
Ovale, Eskulin, Resik V, Master, dan Sleek. Bagaimana Kino menumbuhkan budaya
inovasi di perusahaannya dan bagaimana Harry Sanusi menakhodai Kino Group?
Berikut ini perbincangan Tony Burhanudin, jurnalis Majalah
MARKETING dan Asep Toni K, fotografer Majalah
MARKETING dengan sang CEO.
Perusahaan
yang Anda pimpin sepertinya sangat mengedepankan inovasi sesuai dengan moto
perusahaan, “The Innovator”, apa makna inovasi
bagi perusahaan Anda?
Di
consumer goods berat rasanya untuk memenuhi kebutuhan pasar jika kita
tidak melakukan inovasi. Kalau kita hanya mengikuti konsep me too product,
kita mungkin butuh dana yang sangat besar, yang hanya bisa dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan besar seperti Wings, Unilever, dan sebagainya. Kalau
untuk perusahaan kelas menengah seperti Kino kita perlu banyak berinovasi
supaya lebih gampang masuk ke pasar dan mengambil pasar-pasar yang selalu
tumbuh setiap saat.
Apa
syaratnya sebuah inovasi dapat diwujudkan menjadi sebuah produk?
Dasar
inovasi yang kita pakai, pertama harus memiliki perbedaan yang cukup
signifikan terhadap produk yang sudah eksis. Kedua, inovasi itu harus
bisa diterima oleh target konsumen kita. Jangan asal inovasi dan asal berbeda,
karena belum tentu diterima pasar. Jadi, saling mendukung antara memenuhi
kebutuhan pasar dan inovasi yang kita ciptakan, sehingga konsumen juga akan
lebih mudah untuk memilih kenapa harus menggunakan produk yang baru.
Berarti
Kino Group sangat mendukung budaya inovasi. Bagaimana Anda menumbuhkan budaya
inovasi, tidak mungkin cuma bergantung pada Anda sebagai pucuk pimpinan?
Kami
mendelegasikan kepada karyawan kami, terutama bagian marketing dan R&D (research
and development) semaksimal mungkin. Sebenarnya ide-ide produk baru bisa
datang dari siapa saja, bukan dari karyawan kedua bagian itu saja, karena kami
membuka seluas-luasnya kepada siapa pun. Biasanya tahapannya begini, setelah
ide keluar akan dibahas oleh tim marketing, R&D, dan saya sendiri.
Kemudian, kami coba petakan ide produk tersebut di pasar, kalau memang sudah
ada produk yang eksis, kita lihat lagi apakah ada bentuk inovasinya. Kalau
tidak ada, kami tidak jadi produksi. Kalau memang ada inovasinya, kami pertajam
lagi.
Beberapa
produk Kino Group sukses di pasar, seperti permen lembut rasa kopi. Kira-kira
apa rahasianya selain memang ada muatan inovasi?
Itu
15 tahun yang lalu, memang waktu itu timing-nya tepat. Pada produk
permen, konsumen mudah sekali untuk pindah. Permen itu tidak ada artinya, kalau
konsumen tertarik dia langsung beli. Ini berbeda dengan rokok atau kopi. Kopi
yang iklannya gencar sekalipun, belum tentu orang mencoba. Kalau permen
sederhana saja, kalau tidak enak langsung dibuang. Waktu itu memang pemain soft
candy tidak banyak, sehingga waktu campaign produk itu mudah
diterima masyarakat.
Anda
sebagai entrepreneur punya sense
atau tidak sebuah produk bakal sukses di pasar?
Ada,
mungkin sense ini yang menjadi trigger dari semua proses
inovasi produk. Sense-nya dalam bentuk kita membayangkan, kira-kira
konsumen bakalan mau/tidak dengan konsep produk yang saya tawarkan. Nah,
ini biasanya kami wujudkan lagi/konfirmasi melalui riset, entah melalui riset
yang sederhana seperti FGD (focus group discussion). Dalam FGD ini
biasanya saya langsung yang men-direct, di sini kita bisa tahu
tanggapan dan ekspektasi panelis terhadap konsep produk yang kami tawarkan.
Selain
produk yang sukses, produk Anda juga ada yang gagal, mengapa bisa gagal?
Kami
dulu punya produk yang bisa dikatakan sebagai produk gagal total, yakni Extra
White yang sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Penyebabnya, stabilitas
produknya tidak terpenuhi, karena kita mengejar launching. Hasilnya
malah berantakan. Ada lagi produk gagal karena timing-nya belum tepat,
yakni Absolut (pembersih wanita) yang diluncurkan tahun 1991. Rupanya feminine
hygiene di Indonesia belum banyak yang terlalu mengerti. Enam tahun
kemudian, setelah beberapa brand masuk dan kami re-launching,
ternyata marketnya dapat. Jadi, timing memang turut berpengaruh,
selain konsep dan kualitas.
Di
blog pribadi Anda menulis 3 sampai 5 tahun jika produk tidak mendatangkan
keuntungan dianggap gagal dan harus dihentikan. Itu hitungan best
practice di dunia bisnis atau kalkulasi Anda sendiri?
Sebenarnya
3 sampai 5 tahun itu cuma acuan umum. Terkadang di bawah 3 tahun bisa
kita stop jika memang tidak punya masa depan. Tapi, relatif dalam jangka waktu
3 sampai 5 tahun sudah kelihatan apakah produk tersebut bisa dilanjutkan atau
tidak.
Ada
berapa perusahaan di Kino Group yang Anda pimpin?
Dibanding
dengan grup-grup besar, jumlahnya masih sedikit. Jumlah karyawan kami total ada
7.000. Kami di Indonesia untuk FMCG (fast moving consumer goods) punya
Kinocare dan Kinocentra. Di Filipina punya Kino Consumer Philippines, di
Malaysia ada Kinocare Malaysia, dan di Vietnam ada Kinocare Vietnam, sehingga
total ada 5 yang bergerak di FMCG. Ditambah 1 perusahaan distribusi di
Indonesia, jadi jumlahnya ada 6. Selain itu, kami juga punya restoran Chicken
Story, sehingga jumlah keseluruhan ada 7 perusahaan yang saya kelola.
Bagaimana
Anda mengelola semua perusahaan itu?
Untuk
operasional saya tidak terlibat langsung. Saya lebih fokus ke pengembangan
produk dan strategi marketing, sehingga waktu saya tidak habis di operasional.
Untuk operasional yang kerjanya terukur seperti distribusi, penjualan,
produksi, dan keuangan, saya serahkan kepada para profesional, karena semuanya
bisa diukur. Tapi, yang tidak terukur seperti peluncuran produk baru, membuat
konsep produk, saya terlibat 100%.
Bagaimana
kiprah perusahaan Anda di luar negeri?
Lumayan
eksis. Banyak perusahaan di Indonesia yang hanya jago kandang. Kalau sudah ke
luar negeri tidak bisa berbuat apa-apa. Di Filipina, kami termasuk 5 atau 6
perusahaan Indonesia yang cukup eksis. Perusahaan Indonesia yang lain mungkin hanya
tiga tahun sudah tutup, atau cuma ekspor produk. Kalau kami punya tim sendiri,
dan melakukan aktivitas ATL (above the line) dan BTL (below the
line), jadi kami membangun merek juga di sana.
Apa
yang Anda tanamkan pada karyawan agar perusahaan ini kondusif bagi semua orang?
Karyawan
kerja harus jujur. Jangan kerja asal kerja dan menciptakan iklim kerja yang
tidak kondusif. Sikut-menyikut antarkaryawan untuk mendapatkan posisi yang
lebih baik sangat saya hindari. Kami tanamkan juga karyawan harus berani mengambil
sikap, mengambil keputusan, jangan sampai karyawan menunggu atasannya mengambil
keputusan, ini akan menghambat. Jika keputusan yang diambil salah, kita tidak
akan menyalahkan bila itu terbukti tidak disengaja, sehingga karyawan terpacu
untuk mengambil sikap. Jika salah kita perbaiki bersama-sama. Ketika kita beri
kebebasan ternyata tidak disalahgunakan, justru mereka lebih hati-hati dan
lebih tanggung jawab. Dan ini membuat saya lebih enteng dalam me-manage
perusahaan.
Bagaimana
Anda membagi waktu antara pekerjaan dan urusan pribadi atau keluarga?
Untuk
urusan kerja saya tidak membatasi, di luar jam kantor pun saya masih memikirkan
perusahaan. Banyak orang berpendirian setelah jam kantor selesai, urusan kantor
juga selesai. Malah kadang di hari Sabtu dan Minggu keluar ide-ide konsep
produk baru setelah menonton TV atau saat menemani anak-anak ke supermarket.
Saya kalau ke luar negeri selalu jalan-jalan ke pasar modern dan tradisional,
dan ketika di hotel saya selalu melihat iklan di TV. Kalau iklannya selesai
saya malah pindah channel cari iklan lain, jadi yang saya lakukan
berkebalikan dengan banyak orang ketika menonton TV. Iklan bagi saya adalah
sumber inspirasi yang sangat kaya. Apalagi di luar negeri, mungkin saja produk
tersebut belum ada di Indonesia, mungkin produknya sama, tapi cara
komunikasinya berbeda, ini bisa kita ambil.
(Tony
Burhanudin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar