| (Ign. Eko Adiwaluyo) |
Fenomena kemajuan ekonomi dan bisnis
negara-negara Asia Timur semakin menonjol dua dekade belakangan ini. Terlebih,
setelah munculnya China sebagai salah satu raksasa industri dunia. Hal ini
jelas semakin menarik orang untuk mengkaji berbagai sisi strategi bisnis dan
etos kerja mereka.
Banyak pertanyaan yang muncul,
misalnya mengapa kawasan ini yang tumbuh pesat perekonomiannya dibanding negara
Asia lain. Atau, bagaimana cara kerja mereka, yang membuat kemajuan mereka
sangat pesat.
Menurut pengamat ekonomi,
“kemajuan”—atau bahasa teknis ekonominya: pertumbuhan—dapat
dilihat/diukur dari tingkat produktivitas. GDP (gross domestic product) yang menjadi tolak
ukur konsumsi, investasi dan belanja pemerintah, jika ditambah dengan surplus
(atau defisit) neraca perdagangan ekspor-impor akan menjadi GNP (gross national product).
Ada beberapa negara yang akan tumbuh
pesat di kawasan Asia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan GDP-nya, yaitu
China (8,6%), Vietnam (6%), Indonesia (4,5%), Taiwan (3,9%), dan beberapa
negara lainnya. Namun, fokus bahasan kita sekarang ini adalah mengenai jawara-jawara
Asia Timur. Di antaranya adalah Jepang, China, dan Korea. Berikut petikan
wawancara dengan pengamat pemasaran Andre Vincent Wenas.
Apakah benar Jepang yang paling
menonjol di antara negara Asia lainnya?
Jepang memang sudah menjadi sebuah
raksasa ekonomi, besaran GDP-nya di tahun 2010 diperkirakan senilai US$ 5,128
triliun, dan diramalkan bakal mengalami deflasi (inflasi: -0,2%). Dalam
kerangka “Global Competitiveness Report 2009–2010” yang dirilis oleh World
Economic Forum, Jepang berada di posisi ke-8. Negara Asia yang juga luar biasa
adalah Singapura yang bercokol di urutan ke-3, setelah Switzerland dan Amerika
Serikat. Ranking daya kompetisi global ini didasarkan atas pertimbangan
terhadap 12 parameter, yaitu: kelembagaan, infrastruktur, stabilitas ekonomi
makro, tingkat pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar buruh
dan pekerja, pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran besaran pasar,
kecanggihan bisnis, dan inovasi. Dalam urutan 10 besar dunia untuk daya saing
global, hanya Singapura dan Jepang yang mewakili Asia.
Apa saja budaya kerja Jepang yang
mendukung perkembangan bisnis? Apakah ada kaitannya dengan budaya lokal mereka?
Adanya sikap spartan, ulet, tekun,
rinci, serta kemauan belajar yang keras, dan kuatnya budaya malu bisa menjadi
faktor-faktor yang mendorong kemajuan (pertumbuhan) dan sekaligus menjadi
filter praktek korupsi. Bukannya berarti bahwa di sana tidak ada korupsi,
tetapi budaya Jepang secara umum bisa bertindak sebagai “suara-hati” bangsa.
Apa kultur kerja mereka yang paling
menonjol?
Senantiasa berorientasi pada pemecahan
masalah (problem-solving
oriented), bukan orientasi kambing hitam (scape-goat oriented).
Sehingga, segala energi dan sumber daya bisa dieksploitasi dengan sangat
produktif.
Bagaimana dengan Korea dan China? Apa
keunggulan kedua bangsa ini dalam berbisnis?
Bangsa Korea mengingatkan kita akan
Jepang di era tahun 70–80-an tatkala mereka baru mulai merambah pasar dunia.
Kesan yang tertangkap adalah bahwa bangsa Korea ini lebih spartan lagi
dibanding Jepang. Padahal, hal ini dikarenakan Jepang sudah melewati fase itu.
Ada kemiripan budaya antara Korea dan Jepang.
Sedangkan China memang merupakan
bangsa yang sangat pragmatis. Mereka mempraktikkan sistem politik
komunis-otoriter, namun menganut sistem ekonomi yang kapitalis. Meski begitu,
efektivitasnya sudah terbukti dalam dua dekade terakhir ini. Terkenal sekali
kata-kata Deng Xiao Ping saat itu, “tidak peduli kucing hitam atau putih, yang
penting bisa tangkap tikus”. Pelajaran buat kita di sini adalah, jangan terlalu
pusing soal nama sistem ekonominya, apakah liberal, neo liberal, atau agak
sosialis, yang penting bisa menyejahterakan seluruh rakyat, bukan cuma
segelintir kaum buaya.
Baik di China dan Korea, peran negara
betul-betul efektif. Negara menyediakan infrastruktur, kepastian hukum yang
jelas, sehingga bisa memberi rasa kepastian dan rasa aman, juga insentif
ekonomi yang tidak diselewengkan untuk kepentingan-kepentingan konglomerat
hitam.
Dari segi strategi marketing, siapakah
yang paling unggul? Apakah keunggulan tersebut berkorelasi dengan budaya kerja
mereka?
Ketiga negara itu (Jepang, Korea dan
China) dalam menyusun strategi pemasaran bangsa tentu berangkat dari
asumsi-asumsi yang berbeda terhadap cara mereka membaca pasar. Ini juga
berkaitan dengan keunikan kondisi domestik masing-masing yang juga membawa
kepentingan yang unik bagi setiap negara.
Mana di antara mereka yang paling
unggul adalah persoalan yang relatif jadinya. Apalagi, kalau kita terjun ke
area mikro, di setiap negara punya perusahaan-perusahaan kelas dunia yang
tangguh.
Kalau dilihat dari ranking “Global
Competitiveness Report 2009–2010” maka—di antara ketiganya—Jepang berada di
urutan ke-8 dunia, Korea di posisi ke-19 dunia, dan China ke-29 dunia.
Namun, kalau dari besaran (size) ekonomi (GDP), maka
urutannya adalah: China (US$ 5,588 triliun), Jepang (US$ 5,128 triliun), dan
Korea (US$ 0,882 triliun). Dari sudut pandang GDP per kapita, maka urutannya
adalah: Jepang (US$ 40,440 ribu), Korea (US$ 17,810 ribu) dan China (US$ 4,170
ribu). Sebagai perspektif perbandingan, GDP per kapita Indonesia di tahun 2010
diperkirakan sekitar US$ 2,440 ribu.
Apa ciri masing-masing yang paling
terlihat dari mereka ketika memasarkan produk di Indonesia? Baik dalam
komunikasi, distribusi, dan manajemen keuangan.
Keuletan, ketekunan dan punya semangat
penjelajahan. Tidak berorientasi domestik melulu, tidak berpandangan sempit;
terbuka. Dalam pengelolaan keuangan sangat prudent
dan punya semangat untuk menabung. Lalu, mendasarkan investasinya lewat
tabungan yang berhasil mereka akumulasi, tidak melulu nekat untuk berhutang.
Seberapa besar peranan nilai-nilai
budaya mereka dalam menunjang keberhasilan perusahaan?
Nilai-nilai budaya ini seperti angin.
Dia tidak terlihat, namun bisa dirasakan saat berhembus. Jika perusahaan
diibaratkan kapal layar, angin budaya itulah sebenarnya yang merupakan faktor
pendorong laju pertumbuhan. Ia tidak terlihat, namun terasa. Karena itu,
nilai-nilai budaya perusahaan tidak bisa diukur-ukur besarannya. Hanya, kita
dengan yakin bisa mengatakan, besarlah pengaruhnya, bahkan itulah yang utama.
Bisakah China menggeser Korea dan
Jepang dalam pencapaian brand
equity?
Sangat mungkin China bisa mengambil
alih posisi unggul yang saat ini—untuk beberapa kategori—masih dipegang oleh
Jepang dan Korea. Kualitas kepemimpinan di China akan sangat menentukan
keberhasilan ini.
Bagaimana penerimaan orang Indonesia
terhadap budaya kerja asing tersebut?
Di beberapa wilayah yang selama ini
sudah terekspos oleh kehadiran orang-orang asing, para pekerjanya tentu sudah
lebih terbiasa dan bisa menerima. Tidak terlalu besar dampak gegar budaya atau culture shock-nya.
Jabodetabek, Bali, Surabaya, dan Batam adalah beberapa dari wilayah yang secara
kultural lebih siap untuk menerima perbedaan. Namun demikian, tetap perlu
diwaspadai gerakan-gerakan primordialistik dan fundamentalis yang justru akan
sangat detrimental terhadap keterbukaan ini.
Adakah kultur kita yang bisa menjadi
roh dalam berbisnis dan memenangkan persaingan di dunia pemasaran?
Sebetulnya sangat banyak keunggulan
budaya kita, dalam tataran spiritnya maupun artefak. Semangat gotong-royong
jika dimaknai dengan benar dan positif adalah cikal bakal team work yang bisa
menandingi komunalismenya orang-orang Jepang dan Korea. Peribahasa budaya Jawa
yang mengatakan “alon-alon
asal kelakon” sebetulnya secara positif adalah semangat kaizen, continuous improvement,
detail, rinci dan ketekunan, serta kesabaran. Tidak potong kompas, asal-asalan
dan akhirnya korupsi. Artefak-artefak budayanya pun sangat kaya: tari pendet,
lagu-lagu daerah, seni ukir, batik, candi-candi, maupun bangunan-bangunan, atau
situs-situs kontemporer hasil karya anak bangsa. (Ign. Eko Adiwaluyo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar