Rabu, 31 Oktober 2012

Budaya sebagai Pendorong Kemajuan Ekonomi

(Ign. Eko Adiwaluyo)
Fenomena kemajuan ekonomi dan bisnis negara-negara Asia Timur semakin menonjol dua dekade belakangan ini. Terlebih, setelah munculnya China sebagai salah satu raksasa industri dunia. Hal ini jelas semakin menarik orang untuk mengkaji berbagai sisi strategi bisnis dan etos kerja mereka.

Banyak pertanyaan yang muncul, misalnya mengapa kawasan ini yang tumbuh pesat perekonomiannya dibanding negara Asia lain. Atau, bagaimana cara kerja mereka, yang membuat kemajuan mereka sangat pesat.

Menurut pengamat ekonomi, “kemajuan”—atau bahasa teknis ekonominya: pertumbuhan—dapat dilihat/diukur dari tingkat produktivitas. GDP (gross domestic product) yang menjadi tolak ukur konsumsi, investasi dan belanja pemerintah, jika ditambah dengan surplus (atau defisit) neraca perdagangan ekspor-impor akan menjadi GNP (gross national product).

Ada beberapa negara yang akan tumbuh pesat di kawasan Asia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan GDP-nya, yaitu China (8,6%), Vietnam (6%), Indonesia (4,5%), Taiwan (3,9%), dan beberapa negara lainnya.  Namun, fokus bahasan kita sekarang ini adalah mengenai jawara-jawara Asia Timur. Di antaranya adalah Jepang, China, dan Korea. Berikut petikan wawancara dengan pengamat pemasaran Andre Vincent Wenas.

Apakah benar Jepang yang paling menonjol di antara negara Asia lainnya?
Jepang memang sudah menjadi sebuah raksasa ekonomi, besaran GDP-nya di tahun 2010 diperkirakan senilai US$ 5,128 triliun, dan diramalkan bakal mengalami deflasi (inflasi: -0,2%). Dalam kerangka “Global Competitiveness Report 2009–2010” yang dirilis oleh World Economic Forum, Jepang berada di posisi ke-8. Negara Asia yang juga luar biasa adalah Singapura yang bercokol di urutan ke-3, setelah Switzerland dan Amerika Serikat. Ranking daya kompetisi global ini didasarkan atas pertimbangan terhadap 12 parameter, yaitu: kelembagaan, infrastruktur, stabilitas ekonomi makro, tingkat pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar buruh dan pekerja, pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran besaran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi. Dalam urutan 10 besar dunia untuk daya saing global, hanya Singapura dan Jepang yang mewakili Asia.

Apa saja budaya kerja Jepang yang mendukung perkembangan bisnis? Apakah ada kaitannya dengan budaya lokal mereka?
Adanya sikap spartan, ulet, tekun, rinci, serta kemauan belajar yang keras, dan kuatnya budaya malu bisa menjadi faktor-faktor yang mendorong kemajuan (pertumbuhan) dan sekaligus menjadi filter praktek korupsi. Bukannya berarti bahwa di sana tidak ada korupsi, tetapi budaya Jepang secara umum bisa bertindak sebagai “suara-hati” bangsa.

Apa kultur kerja mereka yang paling menonjol?
Senantiasa berorientasi pada pemecahan masalah (problem-solving oriented), bukan orientasi kambing hitam (scape-goat oriented). Sehingga, segala energi dan sumber daya bisa dieksploitasi dengan sangat produktif.
Bagaimana dengan Korea dan China? Apa keunggulan kedua bangsa ini dalam berbisnis?
Bangsa Korea mengingatkan kita akan Jepang di era tahun 70–80-an tatkala mereka baru mulai merambah pasar dunia. Kesan yang tertangkap adalah bahwa bangsa Korea ini lebih spartan lagi dibanding Jepang. Padahal, hal ini dikarenakan Jepang sudah melewati fase itu. Ada kemiripan budaya antara Korea dan Jepang.
Sedangkan China memang merupakan bangsa yang sangat pragmatis. Mereka mempraktikkan sistem politik komunis-otoriter, namun menganut sistem ekonomi yang kapitalis. Meski begitu, efektivitasnya sudah terbukti dalam dua dekade terakhir ini. Terkenal sekali kata-kata Deng Xiao Ping saat itu, “tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa tangkap tikus”. Pelajaran buat kita di sini adalah, jangan terlalu pusing soal nama sistem ekonominya, apakah liberal, neo liberal, atau agak sosialis, yang penting bisa menyejahterakan seluruh rakyat, bukan cuma segelintir kaum buaya.
Baik di China dan Korea, peran negara betul-betul efektif. Negara menyediakan infrastruktur, kepastian hukum yang jelas, sehingga bisa memberi rasa kepastian dan rasa aman, juga insentif ekonomi yang tidak diselewengkan untuk kepentingan-kepentingan konglomerat hitam.

Dari segi strategi marketing, siapakah yang paling unggul? Apakah keunggulan tersebut berkorelasi dengan budaya kerja mereka?
Ketiga negara itu (Jepang, Korea dan China) dalam menyusun strategi pemasaran bangsa tentu berangkat dari asumsi-asumsi yang berbeda terhadap cara mereka membaca pasar. Ini juga berkaitan dengan keunikan kondisi domestik masing-masing yang juga membawa kepentingan yang unik bagi setiap negara.
Mana di antara mereka yang paling unggul adalah persoalan yang relatif jadinya. Apalagi, kalau kita terjun ke area mikro, di setiap negara punya perusahaan-perusahaan kelas dunia yang tangguh.
Kalau dilihat dari ranking “Global Competitiveness Report 2009–2010” maka—di antara ketiganya—Jepang berada di urutan ke-8 dunia, Korea di posisi ke-19 dunia, dan China ke-29 dunia.
Namun, kalau dari besaran (size) ekonomi (GDP), maka urutannya adalah: China (US$ 5,588 triliun), Jepang (US$ 5,128 triliun), dan Korea (US$ 0,882 triliun). Dari sudut pandang GDP per kapita, maka urutannya adalah: Jepang (US$ 40,440 ribu), Korea (US$ 17,810 ribu) dan China (US$ 4,170 ribu). Sebagai perspektif perbandingan, GDP per kapita Indonesia di tahun 2010 diperkirakan sekitar US$ 2,440 ribu.

Apa ciri masing-masing yang paling terlihat dari mereka ketika memasarkan produk di Indonesia? Baik dalam komunikasi, distribusi, dan manajemen keuangan.
Keuletan, ketekunan dan punya semangat penjelajahan. Tidak berorientasi domestik melulu, tidak berpandangan sempit; terbuka. Dalam pengelolaan keuangan sangat prudent dan punya semangat untuk menabung. Lalu, mendasarkan investasinya lewat tabungan yang berhasil mereka akumulasi, tidak melulu nekat untuk berhutang.


Seberapa besar peranan nilai-nilai budaya mereka dalam menunjang keberhasilan perusahaan?
Nilai-nilai budaya ini seperti angin. Dia tidak terlihat, namun bisa dirasakan saat berhembus. Jika perusahaan diibaratkan kapal layar, angin budaya itulah sebenarnya yang merupakan faktor pendorong laju pertumbuhan. Ia tidak terlihat, namun terasa. Karena itu, nilai-nilai budaya perusahaan tidak bisa diukur-ukur besarannya. Hanya, kita dengan yakin bisa mengatakan, besarlah pengaruhnya, bahkan itulah yang utama.

Bisakah China menggeser Korea dan Jepang dalam pencapaian brand equity?
Sangat mungkin China bisa mengambil alih posisi unggul yang saat ini—untuk beberapa kategori—masih dipegang oleh Jepang dan Korea. Kualitas kepemimpinan di China akan sangat menentukan keberhasilan ini.

Bagaimana penerimaan orang Indonesia terhadap budaya kerja asing tersebut?
Di beberapa wilayah yang selama ini sudah terekspos oleh kehadiran orang-orang asing, para pekerjanya tentu sudah lebih terbiasa dan bisa menerima. Tidak terlalu besar dampak gegar budaya atau culture shock-nya. Jabodetabek, Bali, Surabaya, dan Batam adalah beberapa dari wilayah yang secara kultural lebih siap untuk menerima perbedaan. Namun demikian, tetap perlu diwaspadai gerakan-gerakan primordialistik dan fundamentalis yang justru akan sangat detrimental terhadap keterbukaan ini.

Adakah kultur kita yang bisa menjadi roh dalam berbisnis dan memenangkan persaingan di dunia pemasaran?
Sebetulnya sangat banyak keunggulan budaya kita, dalam tataran spiritnya maupun artefak. Semangat gotong-royong jika dimaknai dengan benar dan positif adalah cikal bakal team work yang bisa menandingi komunalismenya orang-orang Jepang dan Korea. Peribahasa budaya Jawa yang mengatakan “alon-alon asal kelakon” sebetulnya secara positif adalah semangat kaizen, continuous improvement, detail, rinci dan ketekunan, serta kesabaran. Tidak potong kompas, asal-asalan dan akhirnya korupsi. Artefak-artefak budayanya pun sangat kaya: tari pendet, lagu-lagu daerah, seni ukir, batik, candi-candi, maupun bangunan-bangunan, atau situs-situs kontemporer hasil karya anak bangsa. (Ign. Eko Adiwaluyo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar